mercredi 25 avril 2012

Sang Pemimpi


BPC Dixmude,

Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel saya sebelumnya, saya pernah singgah di Brest, Perancis pada tahun 2005 dengan KRI Dewaruci. Waktu itu, Brest adalah kota yang sangat berkesan buat saya selama KJK Luar Negeri, di samping Mekkah tentunya, yang mana saya bisa melaksanakan ibadah umrah pertama kalinya. Berkesan karena hanya selama tiga hari saya di sana, saya bisa mendapatkan seorang teman, yang nantinya akan mengenalkan saya pada orang tuanya yang sangat baik. Pada saat itu saya berjanji dalam hati, suatu saat akan kembali ke Perancis, entah itu dalam rangka singgah dengan KRI ataupun melaksanakan kursus di Perancis. 

Pulang ke Indonesia, saya mengenal Kadeppel yang juga mempunyai hubungan dengan Perancis. Beliau pernah dua kali sekolah di Perancis, GEAOM dan CID (sekolah setingkat Seskoal), sebagaimana juga pernah saya tuliskan di artikel saya sebelumnya. Akhirnya, mimpi itu pun berlanjut. Sering mendapat pengarahan dari beliau membuat saya tahu kalau kesempatan ke Perancis itu ada. Syaratnya satu, BAHASA ! 

Mulailah saya, sambil bermimpi, mencari jalan untuk menguasai bahasa Perancis. Masih ingat di benak saya dulu, sewaktu di Brest 2005,begitu sulitnya untuk membeli air minum. Yah, itu karena orang Perancis jarang yang bisa becakap Inggris. Di AAL saya mengikuti yanus Bahasa Perancis yang dilaksanakan dua kali seminggu kalau tidak salah, waktu itu yang mengajar Lettu Windu. Namun, karena tidak fokus, hingga empat bulan yanus menghitung 1 sampai 10 dalam Bahasa Perancis pun saya tidak bisa.

Lulus dari AAL, penempatan pertama saya di KRI Abdul Halim Perdanakusuma, yang notabenenya masuk dalam Satuan Kapal Eskorta. Sebagai seorang Perwira Remaja, makin jauhlah keinginan saya untuk mengikuti kursus bahasa di CCCL Surabaya. Apalagi waktu itu kapal saya baru selesai repowering, yang mana statusnya selalu “SIAP”, yang artinya siap melaut kapan saja.  Hal ini makin menambah ketidakmungkinan bagi saya untuk melaksanakan aktifitas kursus apa saja di luar.

Namun, secercah harapan itu muncul kembali. Pada tahun 2009, kapal saya harus melaksanakan perbaikan yang menyebabkan ketidakmungkinan untuk berlayar selama setahun. Berangkatlah saya ke CCCL, mendaftar, dan kursus di sana. Selama menjalani kursus di sana, semakin dalamlah saya bermimpi untuk pergi ke Perancis. Walaupun saat itu masih sangat-sangat tidak mungkin. Di Angkatan Laut, siapa yang tahu kalau saya pernah ikut kursus Bahasa Perancis ? Sedangkan syarat untuk mengikuti kursus di Perancis haruslah pernah mengikuti KIBA Perancis di Kemhan, sehingga kita punya file. Kembalilah saya harus bermimpi. Hanya enam bulan saya di CCCL karena harus kembali melaut.

Awal tahun 2009 saya ingat saya pernah mengajukan permohonan untuk mengikuti KIBA Perancis. Waktu itu permohonan saya tidak berlanjut karena banyaknya mentor satu kapal yang mengajukan permohonan yang sama. Mundurlah saya. Hingga saatnya tiba, pada awal tahun 2010, saya mengajukan permohonan yang sama dan kali ini di-acc Komandan.

Tiba saatnya saya berpisah dengan KRI AHP untuk melanjutkan penugasan di KRI Teluk Banten. Tes untuk mengikuti KIBA pun saya laksanakan pada saat saya baru pindah ke Teluk Banten. Namun, waktu itu kapal saya, secara kebetulan, sedang giat-giatnya berlayar. Tak lama setelah selesai tes, saya pun berlayar dengan kapal baru saya, Komandan baru, suasana baru. Harap-harap cemas, karena dalam kondisi berlayar, peluang seorang perwira untuk melaksanakan kursus (kalau tesnya diterima) kembali menjadi 50-50. Segalanya jadi bergantung kebijakan Komandan. Dan benar hingga tiba saatnya saya dipanggil untuk mengikuti KIBA Perancis, posisi kapal saya waktu itu masih berada di laut Arafuru, tak jauh dari Merauke.
Beruntung saya waktu itu dikomandani oleh seorang Komandan yang bijaksana, Letkol Laut (P) Agus Surya Dharmawan. Beliau adalah seorang yang sangat sadar akan pentingnya pendidikan. Waktu itu Banten sedang memeriksa kapal ikan, yang akhirnya terbukti tidak bersurat lengkap. Kapal itu akan diserahterimakan ke Lanal Sorong. Caranya adalah dengan menempatkan satu tim kawal KRI Teluk Banten, yang akan membawa kapal tersebut ke Sorong, sementara Banten masih melanjutkan operasi di laut Aru. Ikutlah saya bersama tim kawal tersebut, yang dikomandani letting saya, Lettu Laut (P) Lukman. Tiga hari dua malam saya tempuh untuk mencapai Sorong. Hingga akhirnya saya meninggalkan tim kawal dan terbang ke Jakarta untuk melanjutkan mimpi saya yang sempat terpotong.

Di Jakarta segalanya berjalan lancar, saya pun bisa mengikuti kursus Bahasa Perancis dengan sangat baik. Lima bulan saya di sana, saya benar-benar dicekoki pelajaran bahasa. Bagaimana tidak, lima hari seminggu selama lima bulan, kami belajar bahasa dari jam 7.30 hingga 14.00. Benar-benar kursus yang sangat sangat intensif. Namun, ada satu hal yang membuat saya terhenyak. Program EAOM, yang tadinya ingin saya ikuti, sudah sejak tahun 2010 tidak ada lagi mengundang perwira dari Indonesia. Terakhir TNI AL mengirimkan wakilnya pada tahun 2009. Dari Athan Perancis di Jakarta saya dapatkan info bahwa Indonesia tidak diundang karena Jeanne d’Arc, kapal yang digunakan untuk EAOM, telah diganti dengan kapal jenis BPC, yang tidak memungkinkan untuk membawa banyak perwira undangan. Jumlah perwira asing yang diundang dikurangi, menyesuaikan dengan kapasitas akomodasi di BPC, dan berkaitan juga dengan penghematan anggaran. Ini berhubungan dengan krisis global yang melanda Negara-negara Eropa belakangan ini. Kembali saya hanya bisa bermimpi, mungkin belum saatnya saya ke Perancis.

Selesai KIBA saya sudah sedikit melupakan cita-cita untuk pergi ke Perancis dalam waktu dekat. Mungkin iya, tapi bukan untuk EAOM. Mungkin untuk 10 tahun ke depan, mengambil Sesko atau apalah. Tahun 2011 belum juga ada kabar tentang EAOM, terbukti dengan tidak adanya perwira Indonesia yang mengikutinya. Bulan April 2011 saya mendaftar untuk mengikuti kursus spesialisasi di India, dan Alhamdulillah saya diterima. Berangkatlah saya ke india untuk melaksanakan pendidikan selama tujuh bulan lamanya. 

Di India, saya masih ingat, waktu itu awal Mei 2011. Ketika saya mengurus surat ijin tinggal di kepolisian Kochin, di sebuah kantor yang terletak di lantai 7 sebuah gedung. Dari atas sana kita bisa melihat pemandangan sekitar, dan juga pelabuhan Kochin. Dari sana saya melihat kapal sekelas BPC sandar di sana. Kalau diamati dengan seksama, bendera yang tergantung di buritan berwarna biru putih dan merah. Ah, itu kan BPC Mistral, sedang melaksanakan EAOM ternyata mereka. Tersenyum saya waktu itu, mimpi saya menjadi hanya sedekat beberapa kilometer saja. Waktu itu tidak ada keinginan lagi untuk ke sana, karena saya sudah mengikuti kursus spesialisasi yang artinya saya sudah terlalu senior untuk belajar di EAOM. Tujuh bulan di India saya habiskan dengan lahap, diiringi dengan malam-malam yang mendebarkan setiap sebelum ujian. Walupun begitu saya masih berani bermimpi, suatu saat saya akan pergi ke Perancis.
Selesai India, Desember 2011 saya pulang ke Indonesia. Waktu itu saya masih belum mendapat penugasan baru karena baru selesai sekolah. Sempat terucap ke istri saya kalau saya mau melanjutkan kursus bahasa Perancis di CCCL sambil menunggu dapat penempatan baru, karena kalau tidak diasah, lama-lama bisa hilang juga semua yang saya pelajari. Siang itu, pulang dari Armatim, dalam perjalanan ke rumah mertua di Gresik, handphone saya berdering. Saya angkat dari Disminpersarmatim, yang membawa berita yang sangat mengejutkan untuk saya : Perintah tes untuk kursus di Perancis !!!

Waktu itu belum genap sebulan saya menginjakkan kaki di tanah air ini. Belum puas pula saya memeluk Axelle, anak semata wayang saya. Namun perintah untuk saya harus dijalankan, apakah ini jawaban atas semua mimpi dan doa saya ? Bukankah sudah 2 tahun ini EAOM sudah tidak ada lagi ? Tes pun saya jalani dan apa hasilnya adalah di mana saya sekarang ini.

Adanya saya di EAOM kali ini kalau dirunut sangat berkaitan dengan timing yang pas, disertai dengan mimpi yang tak pernah berhenti. Dimulai dari mendaftar kursus di India bulan Maret 2011. Waktu itu posisi kapal saya, KRI Teluk Banten sedang melaksanakan operasi, sedangkan saya tidak diikutkan karena menunggu istri saya melahirkan. Tiga minggu dari perkiraan dokter anak saya masih belum lahir juga. Masih ingat saya, pada saat itu Komandan saya sedang ijin pulang ke Surabaya untuk mengurus sekolah S2 ke Singapura. Bertemu kami di ATM Mandiri Armatim, saya menghadap, dan Komandan langsung setuju, surat segera saya layangkan. 

Inilah yang namanya TIMING. 

Saya mendaftar KIBA dari KRI AHP, kapal lama saya, saat saya sudah mendapat perintah mutasi. Kalau saya mendaftar dari Banten, yang saya adalah perwira baru di sana waktu itu, belum tentu permohonan saya di-acc Komandan. Beralih ke India, selesai dari India pada bulan Desember, pada saat panggilan tes ke Perancis, teman-teman satu angkatan saya masih melaksanakan Dikspespa. Sedangkan Banten pada Desember 2011 melaksanakan operasi di Ambalat. Kalau anak saya lahir sesuai perkiraan dokter, maka saya akan menyusul kapal saya ke daerah operasi, yang berarti saya tidak akan bisa mendaftar kursus di India. Dan beruntung juga waktu itu Komandan sedang berada di Surabaya untuk mengurus tugas ke Singapura. Kalau saya tidak ke India, maka saya akan mengikuti Dikspespa seperti yang lainnya, yang artinya pada saat panggilan ke Perancis saya masih sekolah dan tidak akan bisa mengikuti tes. Kalaupun saya memilih menunggu, tidak mengikuti Dikspespa pada tahun 2011 di Surabaya, pada saat panggilan tes saya pasti berada di Ambalat bersama Banten, yang artinya, sekali lagi, mengikuti  tes ke Perancis adalah hal yang mustahil bagi saya.

Entahlah, mungkin itu hanya Allah yang tahu. Yang jelas sekarang saya di sini, berada di atas geladak BPC Dixmude, kapal sekelas dengan yang saya lihat di India 10 bulan yang lalu. Melaksanakan misi yang sama seperti para senior-senior saya dahulu. Menjadi perwira Indonesia pertama yang mengikuti misi EAOM versi baru seiring dengan pensiunnya Jeanne d’Arc, dengan BPC Dixmude.

Di sini saya membuktikan, bukan hanya Ariel saja dalam film Sang Pemimpi yang bisa ke Perancis. Dalam film itu Ariel memerankan seorang anak desa yang berhasil menggapai cita-citanya untuk belajar di Sorbonne, Perancis. Film itu, dan juga novel trilogi Laskar Pelangi, juga menginspirasi saya. Mengajarkan saya bagaimana pendidikan itu harus dikejar sejauh kita bisa. Mengajarkan kita untuk selalu bermimpi, bermimpi apa saja yang kita mau. Karena alam mimpi itu tidak terbatas, kita bebas memimpikan apa saja yang kita suka, yang kita cita-citakan. Karena Allah tidak tidur, Allah pasti mengetahui apa yang kita impikan, seiring dengan doa yang kita panjatkan kepada-Nya.

Dan, hari ini, di ulang tahun saya yang ke-28, saya belum sanggup untuk berhenti bermimpi. Mimpi itu harus selalu ada selama nadi ini masih berdenyut. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya tidak takut untuk memimpikan segala sesuatu yang masih jauh di sana. Entah nanti bakal tercapai atau tidak, yang penting kita sudah berani bermimpi dulu.

Mari kita bermimpi, seperti Sang Pemimpi.

vendredi 6 avril 2012

Escale ke-2 : Djibouti


Setelah melewati kurang lebih seminggu perjalanan di Georges Leygues, dan empat hari latihan di darat, sampailah juga kami ke tempat persinggahan ke-2, Djibouti.  Dengan posisi menghadap ke Laut Merah, Djibouti merupakan Negara yang strategis sebagai pangkalan militer, utamanya bagi Negara-negara yang mempunyai kepentingan di Timur Tengah.

Tak banyak yang bisa diceritakan dari Djibouti, selain karena kotanya yang “gitu-gitu” aja, juga karena saya tak banyak menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan. Panas adalah salah satu alasan untuk berbetah diri “ngadem” di kapal. Total lima hari kami sandar di Djibouti, cukup lama untuk hitungan sandar sebuah kapal perang dalam suatu misi.

Satu-satunya tempat menarik di Djibouti adalah pusat kotanya. Pusat kota Djibouti merupakan daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, bukan karena bentuk kotanya yang indah, namun lebih karena banyaknya bar dan restoran yang bertebaran di sana. Karena konsumennya adalah wisatawan mancanegara, maka secara otomatis harga-harga yang ditawarkan ikut menyesuaikan. Di sebuah restoran yang bernama l’historil café, kita harus merogoh kocek sejumlah 26.000 rupiah untuk segelas coca-cola. Bahkan, harga sebuah kartu pos di Djibouti lebih mahal daripada harga kartu pos di Toulon, Perancis.

Berjalan-jalan di Djibouti amatlah tidak nyaman. Selain karena panas yang menyengat, juga karena banyaknya pedagang cinderamata yang menawarkan barang dagangannya dengan cara memaksa. Walaupun sudah terang-terangan tidak berniat membeli, masih saja mereka menguntit kita. Bukan hanya pedagang souvenir, kalau kita bertanya sebuah tempat makan oleh mereka kita akan diantar hingga ke tempat tujuan tanpa diminta, dengan harapan untuk diberi imbalan yang setimpal tentunya. Belum lagi banyaknya pengemis anak-anak yang meminta-minta di sepanjang jalan. Sempat juga melihat sekilas Planet Hollywood dari luar, yang lebih mirip kafe remang-remang di Indonesia, menyedihkan. Kalau sudah begini baru merasakan betapa masih mendingnya Indonesia.

Satu-satunya yang bagus dari Djibouti adalah lautnya. Bersih sekali, walaupun di perairan pelabuhan. Hari terakhir kami pesiar di sebuah pulau yang bernama Muscha, ditempuh dengan sebuah perahu motor selama setengah jam lamanya. Dari jauh pulaunya terlihat tandus, namun setelah didekati ternyata sangat indah. Berbalutkan pasir putih yang terhampar dengan indah dan laut yang sangat bersih, menggoda hati ini untuk segera berenang. Dan seperti kebiasaan bule-bule yang “ndeso” melihat panas dan pantai, semuanya pada berjemur di sepanjang pantai. Sempat pula saya ngandok spaghetti di rumah penjaga pantai. Bersama kawan dari Maroko, Tunisia, Belgia, Perancis, kami makan spaghetti hangat bersama-sama dari satu mangkok besar, tanpa sendok dan garpu ! Heran juga, bahkan orang Belgia dan Perancis bisa juga makan secara “muluk”. Hingga akhirnya nantinya saya menyesali keputusan saya ikut makan di sana karena esoknya saya mengalami diare yang mengharuskan saya untuk berobat ke rumah sakit.

Itulah sekilas yang bisa saya ceritakan dari sebuah Negara yang bernama Djibouti, mantan jajahan Perancis, yang hingga kini masih belum berdaulat secara penuh. Kami pun bertolak melaut menuju ke tempat persinggahan selanjutnya, Mombassa, Kenya.

vendredi 30 mars 2012

Kemping Dua Hari di Djibouti


Djibouti,

Hari itu hari Senin tanggal 26 Maret. Seperti biasa, setiap pukul 18.30 diadakan briefing harian di ruang konferensi yang salah satunya membahas tentang kondisi cuaca. Di sana disebutkan kalau kemungkinan tanggal 27 pagi kondisi laut tidak memungkinkan untuk dilaksanakan operasi pendaratan. Kepada seluruh siswa yang tadinya direncanakan akan terjun ke darat pada tanggal 27 pagi diharap bersiap untuk diberangkatkan pukul 20.00. Untuk kepastiannya akan diumumkan lebih lanjut.

Sontak berita tersebut membuat saya sedikit panik. Rencana malam itu untuk menikmati dua gelas popmie terancam batal. Untungnya saya sudah menyiapkan barang yang akan saya bawa ke darat pada siang harinya. Satu setel PDL lengkap dengan topi rimbanya, dua pasang kaos kaki, dua buah kaos dalam, dua buah celana dalam, satu set peralatan mandi, empat liter air minum kemasan dan tak lupa dua kotak makanan cepat saji untuk dua hari sudah masuk ke dalam ransel lapangan. Tinggal mengisi velples dengan air minum yang belum saya laksanakan.

Dan apa yang ditakutkan benar adanya. Pada saat makan malam terdengar siaran kalau kami harus berkumpul di radier pada pukul 20.00 untuk melaksanakan pemberangkatan latihan. Segera bergegas saya ke kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tas ransel tempur saya. Tak lupa barang-barang yang tidak saya bawa saya tinggal di kamar teman saya yang masih mempunyai ruang kosong di lemarinya. Setiba di radier suasana benar-benar gelap, tidak ada lampu yang menyala, seperti layaknya latihan pendaratan. Setelah melaksanakan apel kilat kami pun langsung menuju ke EDAR setelah sebelumnya membawa berdus-dus air mineral untuk dibawa ke darat. Ah, saya lupa untuk berpamitan ke istri lewat email ternyata karena terburu-burunya.

EDAR adalah kendaraan pendarat termutakhir yang dimiliki oleh Angkatan Laut Perancis. Dia lebih cepat, lebih luas dan lebih lincah bermanuver. Geladak EDAR bisa mengangkut dua truk besar atau dua tank atau empat mobil jeep kecil. Dengan peralatan navigasi yang canggih, lengkap dengan GPS dan peta elektronik membuatnya tak kesulitan untuk menuju ke daerah pendaratan yang telah ditentukan. Untuk menghitung muatan pun telah tersedia software canggih yang dapat memberi solusi terbaik tentang kendaraan apa saja yang sebaiknya dimuat. Geladak radier BPC Dixmude bisa untuk mengangkut dua EDAR. Namun kali ini hanya mengangkut satu EDAR dan dua CTM (Chaland Transport de Matériel), sebuah alat pendarat model lama yang lebih kecil.

Setelah dilaksanakan penggenangan, EDAR yang saya tumpangi pun secara perlahan keluar perlahan dari radier BPC Dixmude. Di luar suasana benar-benar gelap, namun tak terasa di laut karena besarnya EDAR yang saya tumpangi. Bintang-bintang pun tampak dengan jelas sekali. Sungguh, sesuatu yang terlalu indah untuk dilewatkan. Capek yang terasa pada waktu embarkasi ke EDAR langsung hilang begitu merasakan angin laut yang sejuk dan indahnya kemilau bintang-bintang di angkasa. 

Setelah dua puluh menit menyeberang lautan, tibalah kami di daerah pendaratan. Ternyata tempatnya sangat mewah untuk ukuran sebuah daerah latihan. Beberapa bungalow tampak berjejer yang digunakan Staf Latihan untuk mendirikan tenda. Di ujung timur tampak sebuah bangunan yang ternyata adalah deretan kamar mandi dan WC. Hanya sinyal GSM saja yang absen di daerah ini. Malam itu kami tak langsung tidur. Seluruh siswa Perancis melaksanakan pengambilan FAMAS, sebuah senjata laras panjang buatan Perancis yang katanya sangat akurat. Sebelumnya, di kapal, para siswa sudah dibekali amunisi hampa dan granat latihan yang nantinya akan digunakan selama latihan di darat. Untuk siswa asing undangan seperti saya tidak mendapatkan senjata dengan alasan keamanan. Entah keamanan yang mana lagi yang mereka maksud. Namun paling tidak selama latihan saya tidak perlu berat-berat memanggul senjata itu.

Malam itu kami tidur beratapkan langit dengan dekorasi bintang-bintang yang berkilau di angkasa. Untung saja saya dipinjami sleeping bag, yang bisa member sedikit kehangatan kepada saya malam itu. Dan saya pun terlelap di tengah hembusan angin laut.

Selama pelaksanaan EAOM ini kami dilibatkan dalam latihan di darat seperti layaknya seorang prajurit Angkatan Darat. Sebelumnya, satu batalyon Angkatan Darat sudah melaksanakan pendaratan tiga hari sebelum saya mendarat. Di Perancis, operasi pendaratan dilaksanakan oleh Angkatan Darat. Marinir mereka hanya melaksanakan operasi-operasi khusus yang dilaksanakan dengan unit-unit lebih kecil. Dan di AAL Perancis tidak ada yang namanya korps Marinir. Mereka baru dapat masuk korps Marinir setelah bekerja kurang lebih dua tiga tahun di kapal. Hal itulah yang menyebabkan adanya kurikulum latihan di darat seperti yang saya jalani ini.

Djibouti adalah salah satu daerah latihan Perancis di luar negeri. Djibouti dipilih karena memiliki iklim yang menyerupai Afganistan, daerah operasi Negara-negara “polisi dunia”. Amerika pun memiliki daerah latihan di Djibouti. Yang saya lihat selanjutnya adalah kondisi tanah Djibouti yang berpadang pasir, tandus. Seringkali terlihat penggembala kambing dengan kambing-kambingnya, seolah mencerminkan kemiskinan yang dihadapi oleh rakyat Negara itu. Sehingga wajar saja kalau Djibouti mengorbankan kedaulatannya dengan diijinkannya sebagian wilayahnya digunakan untuk pangkalan ataupun tempat latihan bagi Negara lain. Yang tentunya mengharapkan bantuan-bantuan yang sesungguhnya tidak akan mengangkat Djibouti dari kemiskinan yang mendera.

Pagi pertama saya lewatkan dengan sarapan, sarapan versi Perancis tentunya.  Memasak air dari velples dengan alat pemanas yang berasal dari box makanan survival saya. Segelas susu coklat dengan beberapa potong biskuit sudah cukup mengganjal perut saya hingga siang hari. Boks makanan survival saya cukup lengkap, bahkan bisa dibilang cukup mewah. Salah satu contohnya adalah berisi : 

Mexican salad.
Chicken in “basuaise” sauce.
Chicken liver pate (ini makanan Perancis favorit saya : foie gras).
Instant soup.
Melted cheese.
Salted and sweet biscuits.
Fruit jelly.
Chocolate bar.
Caramels.
Multipurpose paper towels.
Reheating kit.
Water purifying pills sebanyak 6 buah yang digunakan untuk menjernihkan air.

Masing-masing orang dibekali dua kotak yang tentunya dengan menu yang berbeda. Cukup mewah, kan? Di kotaknya tertulis “French Army, NATO Approved”. Jadi teringat slogannya Deplog di kapal : Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran, tapi tanpa logistik pertempuran tidak akan dapat dimenangkan.” Secara sederhana, kalau perut kenyang, apa saja dapat dilaksanakan.

Selama dua hari yang saya rasakan adalah antusias. Bagaimana tidak antusias, di hadapan saya terhampar padang pasir dengan bukit-bukit berbatu yang terjal, sungguh sebuah pemandangan yang aneh bagi saya yang hidup di daerah subur. Naik bukit, turun bukit, tiarap, long march kami laksanakan selama dua hari itu. Sedikit melelahkan tentunya jika berjalan dengan memanggul ransel penuh barang. Namun lelah itu cepat hilang kala melihat hal-hal baru di sana. Tak jarang lewat serombongan onta. Kadang ada juga segerombolan keledai, yang kesemuanya bisa jadi obyek foto untuk kenang-kenangan. Latihan dilaksanakan hingga malam hari dengan istirahat pada pukul 13.00 – 14.00 dan 17.00 – 19.00. Waktu istirahat yang ada digunakan untuk makan, tidur, dan tentunya sholat untuk saya. Tak sulit menemukan tempat sholat di daerah latihan. Dengan bertayamum dan bersepatu, sholat jama’ qashar tetap mungkin untuk dilaksanakan. 

Hari kedua latihan hanya berjalan hingga pukul 10 pagi saja. Karena tersiar kabar kalau kondisi laut akan memburuk sehingga para siswa harus segera kembali ke kapal pagi itu juga. Sebuah kondisi yang menggembirakan tentunya. Di sini, ramalan cuaca buruk bisa berarti positif dan negatif ternyata. Pada saat berangkat mengharuskan kami untuk terburu-buru, meninggalkan kenyamanan yang ada di kapal lebih awal. Pada saat kembali untungnya mempersingkat latihan di darat, yang berarti terhubung kembali dengan internet.

Sebuah pengalaman kemping selama dua hari dua malam yang cukup mengesankan bagi saya.

lundi 26 mars 2012

Membelah Laut Merah

Laut Merah, geladak Georges Leygues.

“ Bonsoir à tous, Enseigne de Vaisseau Andromeda pour le quart 18h à 20h comme l’OQO en double.
Activité à venir, il y aura un TP MM à 18h et le TRAPAX à 19h30. La condition météo, la visibilité est mauvaise, 2 nautiques. La situation surface est clair, le Dixmude est à notre derrière 3 nautiques. Poursuiteur, je vous demande de reporter le CPA et les informations outils à la passerelle.
On passe en danger surface blanc, tir interdit. Toutes les armes sont repos.
Je vous demande de me rendre compte des réglages de vos senseurs et des fréquences veillés dans l’ordres la GE, l’OAD, l’O-INFO et le Poursuiteur.
Bon quart à tous.”

Begitulah rutinitas pertama yang kami lakukan selaku perwira jaga PIT (Pusat Informasi Tempur), mengawali penjagaan selama dua atau empat jam di kotak hitam yang mereka sebut CO (Central Opération) itu. Selama waktu itu pula saya selalu melaksanakan latihan simulasi peperangan, duduk di depan layar monitor dan melaporkan kontak-kontak yang muncul di layar. Tak jarang pula latihan diakhiri dengan simulasi penembakan Exocet MM-38 ataupun Crotale. Sesuatu yang mudah sebenarnya karena semua teori sudah saya pelajari, namun tak jarang menjadi sesuatu yang kompleks karena situasi yang disimulasikan berkembang dengan cepat dan kami dituntut untuk berpikir dengan cepat juga, antara melaksanakan identifikasi, mengirim laporan ke Komandan peperangan, ataupun memikirkan keselamatan kapal dengan melaksanakan aksi-aksi auto-defense.

Di kapal bernomor lambung D-640 ini saya juga melaksanakan jaga di anjungan. Sesuatu yang mudah juga karena saya sudah melaksanakan jaga seperti ini ratusan kali. Namun menjadi mengerikan apabila ada telepon bordering dan harus melaksanakan koordinasi dengan ruang mesin ataupun yang lainnya. Apalagi kalau bukan masalah bahasa. Namun pelan tapi pasti, seluruh kengerian itu hilang dengan sendirinya. 

Mungkin ini yang disebut kualat. Dua tahun yang lalu, 2010 tepatnya, saya sebagai Panagi KRI Teluk Banten-516, ketempatan puluhan Pasis AAL yang melaksanakan latihan SEAAC. Saat itu ujian demi ujian saya berikan kepada adik-adik saya calon pelaut agar mereka semua cakap sebagai paga laut di KRI. Siapa yang menyangka kalau sekarang saya melaksanakan hal yang sama seperti mereka jalani di Teluk Banten, dengan situasi yang berbeda tentunya.

Seminggu di George Leygues, saya merasakan yang namanya terusan Suez untuk kedua kalinya dalam hidup. Setelah itu melewati Laut Merah untuk menuju ke Djibouti. Yang saya rasakan di Georges Leygues ini, situasi di kapal seperti layaknya sebuah kapal perang sesungguhnya. Selama melaksanakan transit di terusan Suez, kapal berada dalam Status Kewaspadaan tingkat 2 Asimetrik, yang berarti setengah kekuatan penjagaan harus standby, baik di anjungan maupun di PIT. Begitu pula waktu mendekati daerah Operasi AntiPerompakan Atalanta, lagi-lagi Status Kewaspadaan tingkat 2 dijalankan. 

Selain itu, setiap hari kapal melaksanakan latihan bersama Dixmude. Latihannya bervariasi, mulai dari latihan penembakan, simulasi peperangan, sampai penerbangan. Namun yang rutin adalah melaksanakan latihan manuver Pembekalan di Laut. Latihan manuver ini dilaksanakan berulang kali selama empat jam, dan para siswa digilir untuk merasakan bagaimana rasanya menjalankan kapal pada saat latihan pembekalan di laut. Kalau cuaca bagus, pasti dilaksanakan latihan penerbangan heli. Dengan adanya BPC Dixmude yang mempunyai kemampuan mengangkut maksimal 16 helikopter, tak sulit latihan ini dijalankan. Mulai dari touch and go, VERTREP hingga foto kapal dilaksankan oleh Gugus Tugas Mission Jeanne d’Arc ini. Dengan banyaknya penerbangan yang dilakukan, baik siang maupun malam, sudah tak terhitung berapa bahan bakar yang terbuang. Begini rupanya caranya negara-negara kaya dalam menyiapkan kesiagaan Angkatan Perangnya.

Mental, itu kuncinya. Selama seminggu pelayaran bersama George Leygues saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mental orang Perancis. Tidak pernah terlihat wajah mengeluh karena harus melaksanakan Status Kewaspadaan tingkat 2, selalu terlihat bersemangat walaupun latihan RAS dilaksanakan setiap hari, yang berarti diulang-ulang begitu-begitu saja. Dan mental ini terlihat dari semua orang, baik Komandan, perwira kapal, ABK maupun teman-teman saya siswa tingkat akhir Ecole Navale.
Selama pelaksanaan latihan, Komandan selalu terlihat mengikuti, baik berada di anjungan maupun di PIT. Bahkan untuk latihan intern sekelas latihan kebakaran, Komandan terlihat serius mengikuti laporan perkembangan situasi terakhir yang dilaksanakan oleh perwira pengendali PEK. Perwira kapal pun begitu, para Paga anjungan maupun Paga PIT selalu memberikan kepercayaan seratus persen kepada siswa dalam melaksanakan tugasnya. Dengan tetap memberikan supervisi seperlunya tentunya. Setiap selesai latihan peperangan di PIT kami selalu diberikan briefing tentang pelaksanaan latihan yang baru selesai kami laksanakan.

Dari sisi siswa, ruang Richilieu (ruang belajar perwira siswa) selalu terlihat penuh sesak. Delapan buah komputer yang tersedia selalu penuh orang, sehingga menyulitkan saya untuk mengakses email. Sebelum jaga wajib hukumnya mempersiapkan diri, dan ini murni dari kesadaran, karena benar-benar tidak ada perwira kapal yang mengarahkan. Hukuman-hukuman tidak dikenal di sini, yang ada adalah ancaman tidak lulus, yang pastinya jauh lebih mengerikan.

Selama belajar di Angkatan Laut Perancis, belum pernah saya menyaksikan peta wilayah Perancis dipajang di dinding-dinding. Semua peta yang ditempel di dinding, termasuk dinding besi George Leygues ini adalah peta dunia ! Sekali lagi ini bicara masalah mindset. Suatu saat nanti, seharusnya bangsaku seperti ini. Sebuah bangsa yang besar, yang tidak hanya besar wilayahnya, namun besar dalam arti seluruhnya. Dengan luas wilayah yang jauh lebih besar daripada Perancis, sudah sepantasnya Negara ini diperkuat oleh Armada Laut yang besar pula. Yang artinya dibutuhkan juga ribuan jenius untuk mengawaki mesin-mesin perang itu nantinya. Semoga di saat itu saya masih bisa bernafas, untuk menyaksikan kejayaan negeri ini yang telah lama tertidur.

Amin.

vendredi 16 mars 2012

Hujan terakhir di Beirut

Beirut, Libanon.

Hari itu, hari Jumat, hari terakhir escale Beirut. Tidak seperti hari sebelumnya yang tidak ada pesiar, hari itu dibalas kontan : Pesiar dari jam 6 pagi, tidak ada apel, tidak ada pengarahan ! Bangun pagi, diri ini langsung sholat shubuh, langsung sarapan, dan langsung berangkat pesiar ! tanpa mandi !

Hari ini rencana menuntaskan to-do list yang belum tertuntaskan. Tujuan pertama adalah ke kantor pos. Di sana membeli perangko dan mengeposkan kartu pos saya. Rupanya Beirut akrab dengan yang namanya hujan, keluar dari kantor pos langsung disambut dengan hujan rintik-rintik yang semakin menambah dinginnya kota. Untuk mengirim kartu pos dari Beirut ke Indonesia, perangko yang digunakan senilai 2000 LL atau kurang lebih Rp. 12000. Entah kapan kartu pos itu sampai ke Indonesia karena kartu pos yang saya kirim dari Toulon sampai sekarang belum sampai juga.

Dari kantor pos langsung meluncur ke City Mall, apalagi kalau bukan untuk mencari sekarton popmie. Yah, mie instan adalah makanan wajib buat pelaut Indonesia. Tidak sehat memang, namun tradisi itu sulit untuk dihilangkan. Untuk menuju ke City Mall saya harus berjalan kembali ke arah pelabuhan untuk menunggu lewatan bus. Setelah lima belas menit menunggu lewatlah kendaraan umum yang saya nantikan. Sebenarnya bus ini tak bisa disebut bus karena bentuknya adalah minibus. Untuk ke tempat yang saya maksud, saya harus melaksanakan oper, turun di daerah bernama Dora, lanjut dengan kendaraan yang lebih besar, meluncur ke City Mall.

Tiba di mall, langsung menuju ke supermarket. Observasi tempat sesaat, langsung menemukan target yang dicari. Namun saat itu waktu tidak memungkinkan untuk melanjutkan berbelanja karena saya harus ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Karena di Libanon, saya kira mudah untuk menemukan masjid. Ternyata di sini tidak seperti di Indonesia. Di mall tidak ada yang namanya sholat jumat berjamaah, dan tidak ada masjid di dekat sana. Satu-satunya masjid yang ada adalah di daerah downtown, tempat di mana saya mengirim kartu pos saya. Akhirnya saya harus kembali ke downtown, naik angkutan umum yang sama, oper di tempat yang sama, untuk menuju masjid.

Di bis yang kedua saya tadinya duduk di belakang, namun ada wanita yang memanggil saya untuk duduk di depan di sebelahnya setelah mendengar saya menanyakan downtown kepada pak sopir. Segeralah saya berpindah di depan. Wajah wanita itu wajah cina keturunan, saya pikir orang Indonesia. Namun setelah saya dekati dia bercakap dengan bahasa yang saya tidak paham. Ternyata dia dari Philiphina, dan dia menyangka saya dari negaranya juga. Namun paling tidak ada orang yang bisa diajak berbicara karena sejak dari tadi sangat sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris atau pun Perancis. Selama perjalanan dia menjelaskan kalau hendak pergi ke warnet ada di daerah Hamra. Untuk ke sana harus naik taksi. Namun ternyata, kata dia, kalau naik taksi harus bilang "service" kalau ingin mendapatkan harga yang murah. Biasanya sang sopir akan menanyakan "taksi" atau "service" ? Taksi artinya mobil itu akan menjadi "milik" kita sepenuhnya hingga tiba di tempat tujuan. Sedangkan "service" artinya kita bisa berbagi dengan penumpang lain yang nantinya akan ditemui selama perjalanan. Harganya cukup miring, bisa seperlimanya.


Sampai di masjid ternyata masih terlalu awal. Namun mending terlalu awal daripada terlambat. Sambil menunggu, saya foto-foto karena kebetulan masjidnya cukup megah. Arsitekturnya cukup indah. Sayangnya saya lupa untuk menanyakan nama masjid berkhubah biru itu.

Selesai sholat Jumat saya segera meluncur kembali ke daerah City Mall untuk berburu popmie. Namun sayangnya kali ini saya tersesat ! Saya salah mengulang jalan saya datang ke masjid tadi. Saya menyusuri pantai kurang lebih selama 20 menit sebelum akhirnya menemukan angkutan umum yang membawa saya ke Dora. Segeralah saya naik untuk pergi ke Dora dengan misi menemukan warnet untuk berskype dengan istri tercinta. Di sana beruntung bertemu dengan seorang Syria yang dengan sukarela menunjukkan tempat warnet. Setibanya di warnet ternyata masih ada waktu setengah jam dari waktu janjian kami. Dan, kebetulan lagi, tepat di sebelah warnet itu ada restoran philiphina. Tanpa berpikir panjang saya masuk ke resto tersebut untuk kemudian memesan seporsi cumi-cumi asam manis. Sungguh, rasanya mampu sebagai obat pengusir rindu terhadap masakan Indonesia.

Lepas itu segera ke City Mall untuk kemudian berbelanja popmie dua karton. Dua karton yang nantinya akan digunakan selama empat bulan. Di sana tak berlama-lama karena saya harus segera kembali ke kapal untuk melaksanakan perpindahan kapal. Ya, untuk etape selanjutnya, saya harus onboard di George Leygues, Frigate antikapal selam Perancis. Sebuah kapal tua namun masih cukup mempunyai taring yang tajam. Di sini saya benar-benar merasa sebagai seorang tentara angkatan laut. Ruangannya sempit-sempit, tidak seperti di Dixmude yang hidup bagaikan di hotel.

Mungkin selama etape kedua tidak akan ada update blog ini lagi karena di George Leygues tidak ada fasilitas internet secanggih di Dixmude. Hanya ada email, itu pun memakai akun khusus dari kapal.

Selamat tinggal Beirut, sampai jumpa kembali di Djibouti.

 

jeudi 15 mars 2012

Escale pertama

Beirut, Libanon

"rompre le poste de combat... rompre le poste de combat.."

Bunyi siaran kapal tadi menandakan bahwa kapal yang saya tumpangi ini, BPC Dixmude, telah sandar di pelabuhan Beirut, Libanon. Sebuah escale pertama kali di luar negeri buat kapal ini. Sandarnya kapal bukan berarti leha-leha, acara pertama langsung menanti : kunjungan duta besar Perancis. Selepas kunjungan seluruh kru kapal melaksanakan pembersihan umum seperti layaknya yang harus dilakukan di sebuah kapal perang di negara manapun.

Selepas pembersihan seluruh ABK sibuk dengan persiapan pesiar masing-masing. Maklum, ini adalah pesiar pertama buat seluruh ABK Dixmude selama sejarah berdirinya kapal ini. Namun, kabar buruk datang dari siaran kapal : Pesiar ditunda karena perijinan untuk ABK kapal masih belum diacc oleh pihak yang berwenang di Libanon.Waktu pesiar masih menunggu pemberitahuan lebih lanjut.

Glodak... bubar sudah rencana yang sudah saya susun sedemikian rupa. Utamanya skypean dengan anak istri, harus ditunda dulu sampai dua hari kemudian.

Sebenarnya target saya pesiar di Beirut ini sederhana :
1. Cari warnet untuk skype dengan keluarga.
2. Cari kartu pos, perangko, dan mengirimkannya.
3. Reparasi kacamata (kacamata saya lepas murnya, perlu obeng kecil untuk memperbaiki).
4. Cari magnet untuk cinderamata.
5. Cari indomie, untuk bekal pelayaran.

Setelah menunggu dua tiga jam, akhirnya pengumuman yang ditunggu-tunggu datang juga. Seluruh ABK, termasuk pasis diijinkan pesiar hingga pukul 01.00 pagi. Segeralah saya berganti pakaian dan segera menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di bumi Libanon.

Kesan yang saya dapat pertama kali adalah DINGIN. Suhu waktu itu sangat dingin, hampir seperti di Perancis. Turunnya hujan semakin menambah dinginnya sore itu. Dengan berbasah-basah kuyup kaki ini saya langkahkan entah ke mana. Cukup megah juga Beirut, jauh dari kesan kota yang pernah dilanda konflik. Pembangunan yang dilakukan di Beirut sangat pesat semenjak dilanda kehancuran pada perang saudara yang terjadi pada tahun 75 sampai 90an. Namun suasana lalu lintas sudah menurun jika dibandingkan dengan di Perancis. Di Beirut kalau menyeberang jalan harus dengan penuh percaya diri, mirip-mirip di Indonesia lah. Malah di Beirut lebih parah karena tidak ada yang namanya zebra cross. Nampaknya semakin ke timur tingkat kesadaran semakin menurun.

Karena keluar pesiar sudah terlambat, maka tidak ada waktu lagi untuk mencari warnet untuk skype. Hari itu hanya nongkron di restoran arab, makan kebab dan berwhatsapp dengan menggunakan Blackberry saya. Blackberry andalah yang sekarang saya hanya perlu mengisi ulang batereinya dua hari sekali. Untungnya di resto itu ada wifi dan kebabnya tidak mengecewakan, walaupun harus ditebuh dengan harga yang "bagus" juga. Dan, tak jauh dari situ saya menjumpai sebuah toko cinderamata yang juga menjual kartu pos. Tanpa pikir panjang, tiga buah kartu pos dan satu magnet bendera libanon sudah berpindah tempat ke tas bodypack saya.

Praktis, selama tiga hari escale di Beirut kami hanya mendapat pesiar selama dua hari. Karena pada hari kedua kami harus mempersiapkan kapal untuk kunjungan Penglima Tentara Perancis. Semoga di hari terakhir besok sisa to-do list saya bisa saya penuhi semua, untuk bekal pelayaran berikutnya.


lundi 12 mars 2012

Halal haram di kapal

Walaupun berlayar di kapal Perancis, namun saya tidak mengalami kesulitan dalam hal makanan. Kesulitan yang dimaksud bukanlah masalah selera, karena saya, alhamdulillah, telah dikaruniai selera yang luar biasa oleh Allah karena sanggung menghabiskan jenis makanan apa saja. Namun lebih kepada permasalahan halal-haram makanan.Masalah ini bagi sebagian orang mungkin tidak penting, namun bagi kami umat muslim sangat penting.

Di Dixmude ini, selalu ada makanan cadangan bagi kami yang muslim, bila kebetulan menu pada hari itu babi. Tinggal bilang ke petugasnya bahwa saya tidak makan babi, maka dia akan segera menyediakan jenis makanan yang lain, entah itu daging sapi, nugget, atau yang lainnya. Sungguh, hal ini sangat menyenangkan karena dengan begini kebutuhan kalori kami tetap terpenuhi.

Dahulu pernah punya pengalaman onboard dengan kapal layar Swedia, di mana pada saat itu kami mengalami kesulitan dalam pemenuhan makanan halal. Saat itu saya berlayara bersama tiga sahabat saya. Sama dengan di kapal Perancis, seringkali menu pada hari tertentu adalah babi, dan ketika itu, kami tidak ada pilihan lain. Solusinya adalah, kami makan sayur-sayuran dan menahan lapar sepanjang hari sambil berharap menu berikutnya bisa kami makan. Atau dengan menyimpan telur jatah sarapan untuk dimakan pada siang hari atau malam hari.

Di kapal Perancis ini, pernah ada pengalaman menarik masalah makanan halal-haram ini.Daftar menu mingguan ditempel di pintu masuk ruang makan, jadi seluruh pengunjung ruang makan bisa melihatnya pada saat mengantri. Model ruang makannya seperti di Hoka-Hoka Bento, di mana kita mengantri sambil membawa nampan untuk menunggu dilayani. Pada siang itu saya baca di daftar menu untuk menunya tidak ada babi. Seperti biasa, saya mengambil entrée, plat principal dan desert. Desertnya saat itu mengundang selera, pisang panas dilumuri saus gula. Setelah mengambil semuanya, saya duduk di ruang makan. Tak lama, datanglah seorang ABK kapal menghampiri saya. Dia bilang kalo di saos pisangnya ada campuran rhum. Ternyata dia disuruh oleh petugas restorasi untuk mengingatkan saya karena sebelumnya saya sempat bertanya apakah daging ini babi atau tidak. Segeralah saya mengganti desert yang telah saya ambil tersebut dengan salad-saladan. Sungguh, sebuah pengalaman yang menarik.

Dan pengalaman serupa terjadi kemarin malam. Pada saat mengantri saya baca di daftar menu, plat principal pada saat itu adalah beouf bourgignon.Dengan tak bertanya lagi saya langsung mengambil piring yang telah disediakan untuk saya, untuk kemudian mengambil roti. Pada saat itu ada dua jenis roti, di kiri adalah baguette yang telah dipotong-potong. Dan di sebelah kanan adalah roti biasa dengan tulisan di piringnya seperti berikut : du pain ou du vin rouge, yang artinya roti atau anggur merah. Memang disediakan anggur merah yang bisa diambil dengan gelas. Jadi, kita bisa memilih roti atau segelas anggur merah, begitu kira-kira yang saya mengerti. Saya pun duduk di meja makan, di sana ada Sebastien, teman dari Inggris yang sudah makan lebih dulu. Dia pun berkata kepada saya,

"Andro, roti itu ada anggur merahnya," dia tahu kalau muslim tidak minum alkohol.

"Tidak, bukannya tulisannya du pain ou vin rouge ?" Sanggah saya tidak mau kalah.

"Bukan, tulisannya adalah du pain au vin rouge," terang dia, yang berarti : roti dengan anggur merah.

Hhh, untung saja rotinya belum saya makan. Terima kasih Sebastien untuk telah mengingatkan saya. Ternyata orang-orang Eropa bisa juga mengingatkan kita untuk tidak makan makanan haram.

Setelah makan saya berinternet di ruang komputer. Tak lama kemudian datanglah teman saya dari Kuwait, Abdullah.

"Sudah makan ?" Tanya saya.

"Sudah, tapi saya tidak makan banyak, hanya pasta saja," jawab dia.

"Lho, kenapa tidak makan dagingnya ? Itu kan daging sapi..." tanya saya kepadanya.

"Bukan, karena petugasnya belum-belum sudah bilang kalau daging itu bukan untuk saya, katanya," lanjut dia. "Mungkin karena dia paham bahwa saya ini orang Arab."

Nah lho, berarti daging yang telah saya makan tadi apa ?